Adalah sebuah kewajaran di ibukota Jakarta apabila seorang yang telah bekerja akan selalu pulang pergi setiap hari antara kantor dan tempat tinggalnya. Hal ini akan tetap disebut wajar apabila jarak yang harus di tempuh merupakan jarak yang lumrah dan tidak menyita waktu serta energi terlebih lagi saat pulang kerja yang seharusnya bisa langsung istirahat dan tidak berkutat dengan masalah kemacetan di Jakarta.
Keadaan inilah yang bisa saya tangkap dari seorang klien bernama bapak Leksana, seorang Personal Development. Beliau menginginkan agar supaya rumah ini benar-benar dijadikan rumah tinggal dan bukan untuk dijual namun rencana kedepanya rumah ini tidak menutup kemungkinan nantinya bisa digunakan sebagai "Home Office" sehingga pekerjaan bisa dilakukan dari rumah seperti, korepondensi, telepon dan presentasi.
Sebelumnya beliau masih tinggal di Tangerang di rumah pertamanya yang sederhana lalu setelah itu beliau pindah dan mengontrak di Jakarta karena tidak tahan dengan kemacetan selama perjalanan yang memakan waktu 3-4 jam perhari. Keinginan untuk membangun rumah sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, namun karena kondisi politik dan ekonomi beliau baru bisa dan mempunyai kesempatan membangunnya saat ini.
"Saat ini anak-anak tidak tinggal disini tapi di kota lain dan hanya kesini waktu liburan saja. Rumah biasa ditinggal karena saya sering tugas keluar kota bisa seminggu atau dua minggu paling lama. Jangka panjang saya akan mencari pembantu. Apakah bisa dirancang supaya jika pembantu yang tinggal maka rumah ini cukup aman?" tegasnya.
Selain informasi diatas beliau juga mempunyai permintaan khusus seperti; garasi untuk 2 mobil, taman kecil di depan rumah, taman belakang dengan kolam ikan koi, di ruang belakang ada tempat duduk yang open space, dapur spesial karena beliau hobby memasak, tempat sembahyang dan meditasi serta beliau juga gemar mengkoleksi benda-benda seni oriental.