Adalah sebuah hunian yang mampu mengatasi kondisi lingkungan saat ini, khususnya di perkotaan, karena dapat mengakomodasi kebutuhan penghuni akan kenyamanan. Setelah seharian beraktifitas maka rumah harus menjadi tempat untuk melepaskan lelah (refresh) dan sekaligus menjadi tempat untuk mendukung kesibukan pekerjaan yang kerap terpaksa dilakukan di rumah. Dengan Pembagian ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan penghuni. yang menginginkan kepraktisan maka sekat-sekat dalam ruang dikurangi sehingga dapat mendukung kegiatan sehari-hari. Dan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang panas maka kolam-kolam air di tambah sebagai generator udara segar. Serta untuk mengakses arus informasi maka di gunakanlah hotspot Wi-Fi sehingga di ruangan manapun sang Ibu bisa melakukan pekerjaanya yang berprofesi sebagai penulis.
Sebagai penulis, Herly, teman sekelas Prima saat SMA, memiliki waktu kerja yang lebih longgar ketimbang sang suami. Pagi hari ia masih bisa mengantar anak-anaknya ke sekolah setiap hari naik sepeda motor matic, lalu pulang untuk bekerja barang dua tiga jam sebelum menjemput mereka lagi. Profesi penulis membuatnya bisa mendampingi kedua anaknya, Bram (7) dan Noni (4) belajar dan bermain. Namun karena rumahnya terbilang sempit, tempat untuk bermain ya sekaligus tempat belajar, dan sebaliknya.
Prima (37), seorang manajer pemasaran, memilih tinggal di tengah kota supaya tak banyak waktu terbuang sekadar menuju ke tempat kerja. Karenanya, meskipun lahannya sempit, ia merasa lebih nyaman tinggal di situ karena ia masih bisa mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawanya pulang, meski itu harus ia kerjakan di meja tamu, bergantian dengan istrinya, Herly, yang seorang penulis. Kadang-kadang, Prima harus membereskan laptop istrinya lebih dulu sebelum ia mulai bekerja dengan laptopnya. Tak jarang pula, ia harus menarik kabel telepon ke meja tamu karena laporan yang ia buat harus segera ia email ke atasannya saat itu juga.
Prinsip-prinsip rumah urban yang diadopsi untuk masyarakat perkotaan menurut Agus Pranoto, adalah sebagai berikut:
Melestarikan energi, dalam perancanganya diupayakan untuk mendukung pelestarian energi dengan memastikan bahwa penataan/gubahan ruang, penggunaan material bangunan dan teknologi yang digunakan dalam proses pembangunan atau nantinya saat digunakan bangunan ini harus cukup hemat konsumsi energinya.
Sesuai dengan iklim, bangunan harus dapat beradaptasi dengan iklim setempat agar terhindar dari persoalan teknis. Warisan budaya yang ada dapat menjadi pelajaran yang sangat penting dalam menerapkan prinsip ini.
Perhatikan kebutuhan penghuni, pastikan bahwa bangunan sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak terjadi perubahan/renovasi di kemudian hari yang secara tidak langsung mendorong eksploitasi lingkungan dan energi.
Menghargai tapak, perhatikan apakah bangunan sesuai dengan kondisi tapak sehingga potensi lahan dapat dimanfaatkan secara baik dengan kontruksi efisien dalam hal material, teknologi, energi dan biayanya.
Pendekatan holistik, lakukan pendekatan yang menyeluruh (holistik) untuk menjawab berbagai tuntutan/kebutuhan dengan mengatasi beragam masalah yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder) untuk mendapatkan solusi yang terbaik.